Senin, 19 Januari 2009

Duka Buruh PR Jambu Bol (1)



Harta Benda Dijual untuk Hidup


TURUNNYA produksi PR Jambu Bol membawa dampak pada ribuan buruh mereka. Para buruh yang menggantungkan penghasilan dari pabrik itu selama bertahun-tahun kini merana. Berikut, gambaran nasib para buruh tersebut dalam dua tulisan. Nama-nama mereka terpaksa tak disebutkan.
SEORANG pria tampak duduk di depan Aula Gedung DPRD. Wajahnya menengadah, matanya menatap kosong. Raut mukanya menunjukkan ekspresi kelelahan. Sementara, hujan di luar masih tampak mengguyur deras.Lelaki itu termasuk sekitar 500 buruh PR Jambu Bol yang mendatangi Gedung DPRD Rabu (15/1). Mereka datang dengan tekad menduduki gedung wakil rakyat tersebut hingga ada kejelasan nasib. Lelaki usia 50 an tersebut, termasuk buruh pabrik rokok itu yang lama tak bekerja tapi tak juga dipecat. Mereka juga tak pernah diberi uang tunggu sebagai kompensasi atas kebijakan tak dipekerjakan itu."Kula bingung Mas. Nasib kula pripun (Saya bingung. Nasib saya bagaimana)," ujarnya setelah didekati.Mendengar ceritanya kemudian, kita menjadi maklum. Dia bercerita, istrinya juga merupakan buruh di pabrik rokok tersebut. Mereka telah bekerja sejak awal 80-an. Jika dulu masa bahagia mereka rengkuh, kini hanya kebingungan yang muncul.Apalagi, dia dan sang istri masih menanggung empat anak yang sebagian harus sekolah."Untuk kebutuhan sehari-hari, saya sudah jual beberapa harta benda yang ada. Motor, televisi, dan lainnya," ujar lelaki tersebut.Lain lagi dengan perempuan yang mengaku bekerja di PR Jambu Bol sejak 1977 ini. Sejak tenaganya tak lagi digunakan untuk nglinting rokok, dia harus susah payah mencari kerjaan lain."Pekerjaan apa saja saya terima asal halal. Kadang mencuci, kadang juga memasak," ujar ibu empat anak yang tinggal di Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo.Dia tak lagi bisa bergantung pada pabrik rokok yang selama ini bisa dianggap sudah menjadi urat nadinya. Kenangan puluhan tahun harus segera dihapus demi kehidupan keluarga.Pabrik Jambu Bol sendiri didirikan pada 1937 oleh H Ma'ruf Rusdi. Pabrik itu berpusat di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae. Selain itu mereka juga memiliki gudang produksi di Desa Bae dan Desa Janggalan, Kecamatan Kota. Pabrik itu mengalami kejayaan di era 80-90 an. @

Tidak ada komentar: