Kamis, 04 Desember 2008

(Me)museum(kan) Kretek


SATU museum yang dibanggakan Kudus adalah Museum Kretek. Museum tersebut berada tak jauh dari Kota. Di sana bisa dijumpai selintas lingkungan seputar kretek (bisa dibaca rokok).Konon, museum tersebut merupakan yang pertama kali dibangun di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Museum Kretek diresmikan oleh Gubernur Jateng Soepardjo Roestam 3 Oktober 1986. Roestam sendiri tercatat sebagai salah satu penggagas museum yang diharap mendukung keberadaan Kudus sebagai Kota Kretek.Museum itu memiliki beberapa koleksi mulai dari alat pembuat kretek hingga berbagai macam produk yang dijual di masyarakat. Bahkan, beberapa benda milik legenda rokok di Kudus Nitisemito juga dipajang. Selain itu, diorama yang memaparkan industri kretek dari hulu hingga hilir juga ada.Sepintas, museum itu sangat "menggiurkan" untuk dicicipi. Sayang, keadaannya justru bertolak belakang. Tempat itu bisa dikatakan, dalam bahasa yang sedang nge-tren, garing. Tak pelak, pengelolaan yang sekenanya menjadi sumber masalah. Museum Kretek pernah dikelola oleh Persatuan Pabrik Rokok Kudus (PPRK). Namun, sejak tahun lalu berpindah ke tangan pemkab. Meski demikian, sejauh ini belum nampak perubahan bakal terjadi. Padahal banyak, setidaknya menurut penulis, yang harus dibenahi.


Tata Ruang
Yang pertama, menyangkut tata ruang. Termasuk disini adalah display (peletakan) beberapa koleksi. Ada beberapa penataan yang serasa kurang pas. Yang sungguh sangat mengganggu yakni peletakan diorama dan koleksi rokok. Diorama industri rokok ditempatkan sebagai salah satu bagian dari dinding. Akibatnya, pengunjung hanya bisa melihatnya dari satu sisi saja. Padahal, justru akan lebih menarik jika diorama itu bisa dinikmati dari berbagai sisi sekaligus. Sementara itu, penyusunan produk rokok dilakukan dengan menatanya di sebuah kotak berkaca secara horizontal. Cara itu cukup mengganggu pengunjung yang ingin melihat. Mereka akan kesulitan terutama saat ingin melihat koleksi rokok yang berada di tengah kotak itu. Selayaknya, koleksi rokok tersebut disusun secara vertikal. Selain mudah dilihat, penyusunannya juga lebih mudah. Ruangan museum yang berbentuk segi empat juga sudah seharusnya ditata ulang. Yang harus diutamakan tentu alur pengunjung saat masuk hingga keluar.

Program
Penyusunan program museum juga menjadi hal pokok yang wajib dikerjakan. Selama ini, bisa dikatakan pengelolaan museum berjalan mengalir begitu saja. Tidak ada sosialisasi secara intensif pada masyarakat tentang arti penting museum itu. Akhirnya, yang datang bukan masyarakat yang apresiatif terhadap sejarah industri rokok di Kudus tapi justru mereka yang ingin berpacaran di taman. Pengelola bisa saja bekerja sama dengan institusi pendidikan misalnya. Dalam jangka waktu tertentu, rombongan siswa bisa dihadirkan di sana. Selain belajar sejarah, mereka juga bertamasya meski tak seperti di objek wisata. Akan lebih menarik pula, apabila ada simulasi pembuatan kretek di museum. Para pengunjung bisa mencoba membuat kretek. Tentu saja, program tersebut tetap dengan embel-embel tidak bermaksud menyarankan untuk merokok. Pengunjung hanya diharapkan untuk menghargai panjangnya sejarah rokok di Kudus yang telah menjadi nadi kota tempat mereka tinggal. Pengunjung juga harus dimanjakan dengan guide yang betul-betul memahami sejarah kretek. Dia atau mereka menemani pengunjung selama berkunjung sembari memberi penjelasan tentang koleksi yang ada. Keberadaan guide mutlak adanya. Sayang, selama ini selalu diabaikan. Museum juga bisa berinisiatif mengadakan beberapa acara untuk menarik minat masyarakat. Segala lomba, segala pentas, tentu layak diselenggarakan.
Pengelolaan
Mengelola sebuah museum memang tak mudah. Namun, sebenarnya juga tak sulit. Saat ini di beberapa daerah tengah bergerak sistem pengelolaan yang menjauhkan museum dari kesan tua, angker, dan kuno. Mungkin bisa disimak keberadaan Museum Ronggowarsito di Semarang dan Museum Batik di Pekalongan. Dinas yang mengelola Museum Kretek saat ini bisa belajar ke sana. Karena sebaliknya, Museum Kretek justru sepertinya semakin mengukuhkan kesan tua dan kuno yang berakibat menjauhnya masyarakat. Cara menghapus kesan itu juga bukan berarti menyulap museum menjadi taman ria. Karenanya, patut dikaji kembali rencana Diparbud yang akan membangun sebuah arena permainan anak di sekitar museum itu. Dana untuk membuatnya mungkin lebih tepat bila dialokasikan guna penataan ulang museum dan juga penyelenggaraan beberapa program mendatangkan pengunjung. Persoalan dana memang tak lagi masalah bagi Kudus untuk mengelola museum itu. Dana bagi hasil cukai yang jumlahnya milyaran rupiah bisa dimanfatkan untuk itu. @

Tidak ada komentar: