Rabu, 03 Desember 2008

Monolog Teater Garasi

Sum, Ceritamu Itu..



PENDAPA di Studio Teater Garasi, Yogyakarta, riuh oleh musik dangdut progresif. Musik yang digemari sebagian masyarakat Indonesia itu sengaja diputar sambil menunggu penonton duduk di tempat yang telah disediakan. Sebagian memilih di kursi, sebagian lagi memilih mendekat di bibir panggung.Sesaat setelah suara musik menghilang, sesosok perempuan muncul di panggung mengenakan kerudung. Dia bercerita keinginannya untuk bekerja di luar negeri. Setelah itu, lampu yang tadinya hanya mengarah ke perempuan tersebut menyebar ke seluruh panggung.Perempuan itu berjalan ke depan, melepas kerudung, dan berkata, "Selamat malam semua. Tadi itu si Sum, perempuan yang kemudian berangkat jadi TKW."Itulah gaya B Verry Handayani di atas panggung saat tampil membawakan lakon monolog bertajuk "Sum; Cerita dari Rantau" Jumat (28/11) malam lalu.Lagu dangdut di awal pentas seolah mewakili kaum pinggiran yang tak henti ditindas. Seperti para TKW yang meski disebut pahlawan devisa tapi tetap diperlakukan semena-mena. Dan parahnya, perlakuan itu tidak hanya dilakukan oleh sang majikan di negeri seberang, tapi juga oleh oknum-oknum aparat negara.Sesekali bercerita, Verry juga kerap memerankan beberapa tokoh. Tak hanya Sum, dia juga bermain sebagai Par, perempuan yang juga bekerja sebagai TKW, dan penjaga loket di bandara serta calo yang menawarkan angkutan dari bandara ke kampung halaman. Perubahan karakter dari satu ke yang lain itu kadang ditimpali dengan iringan musik yang semakin menegaskan garis perpindahan. Verry memang cukup lihai dalam melarutkan emosi penonton dalam alur yang dia bawa. Dia membuat penonton tertawa saat meniru tingkah penjual jasa yang kocak. Dia juga menciptakan ketegangan kala merepresentasikan adegan Par di penjara gara-gara izin kerjanya dianggap palsu. Verry juga ikut menebarkan rasa duka kala menjadi Sum yang bercerita betapa menderitanya dia selama bekerja di negeri jiran. Semua itu dikisahkan di atas panggung dengan set minimalis tapi fungsional.Lewat Sum, Verry hendak bercerita tentang penderitaan TKW. Dalam katalog pertunjukan, Verry mengakui persoalan TKW itu seperti hal yang dekat tapi sesungguhnya jauh. Dekat, karena hampir setiap saat media memuat berita tentangnya, sementara jauh sebab dia merasa baru mengenal isu tersebut lewat sebuah video pertunjukan monolog di sebuah festival. Tapi jarak yang jauh itu berhasil ditempuh Verry. Setidaknya lewat pertunjukan yang dia mainkan empat kali dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Lakon itu juga serasa istimewa karena dipentaskan bersamaan dengan peringatan hari antikekerasan terhadap perempuan. Bersama pementasan Jamaluddin Latif di Japan Foundation Jakarta, pentas kemarin juga menutup "Cerita tentang Nama-nama", rangkaian pentas monolog yang digelar Teater Garasi. Ya, Sum ceritamu itu menyadarkan kami. (Tapi, entah mereka..) @



Diterbitkan di Suara Merdeka, Selasa (2/12)

1 komentar:

BELAJAR BERSAMA mengatakan...

salam seni dan budaya.........sudah lama aq dengar kabar dari teater garasi......andai kita bisa berjumpa dan bisa menjadi mediator untuk penampilan sangat suka sekali kami salam dari teater sangcek UNMUH gresik..........sementara adanyacuma blog pribadi >>sadmito.blogspot.com